Thursday, 22 September 2011

Wingko Babat

450 ml Santan dari setengah butir kelapa
250 gr Gula pasir
1/2 sdt Garam
1/2 sdt Vanili bubuk
250 gr Tepung ketan
1/3 btr Kelapa, (pilih yang tidak terlalu tua, lalu parut)

Cara Membuat Kue Wingko Babat :
1. Panaskan oven hingga bersuhu 180 derajat celcius, kemudian siapkan loyang ukuran 23x23x3cm, lalu alasi dengan menggunakan daun pisang.
2. Masak santan dan gula pasir sambil diaduk hingga mendidih dan gula larut, lalu masukkan garam dan vanili, kemudian angkat dan dinginkan.
3. Campur tepung ketan dengan kelapa parut, aduk sampai rata. Kemudian tuangi santan sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk. Setelah itu tuang adonan ke dalam loyang, dan ratakan.
(Apabila sobat onliners menginginkan wingko dalam bentuk bulat, sobat onliners bisa juga mencetaknya dengan cetakan bentuk bulat atau bentuk lain sesuai selera sobat onliners, misalnya cetakan bintang atau bentuk hati, love)
4. Panggang kedalam oven yang sudah panas selama kurang lebih 40 menit sampai wingko babat matang dan berwarna kuning kecokelatan. Angkat dan dinginkan, lalu potong-potong sesuai selera.

                                                            Sumber

Wednesday, 21 September 2011

Sejarah Bakso




http://resepnengnayla.blogspot.com Pada akhir Dinasti Ming (awal abad ke-17) di Fuzhou, ada seorang pria bernama Meng Bo, tinggal di sebuah desa kecil. Dia berkepribadian baik dan berbakti kepada orang tuanya.

Bakti Meng Bo pada ibunya sangat diketahui oleh para tetangga. Suatu hari, ibunya yang sudah mulai tua sudah tidak dapat makan daging lagi, karena giginya sudah mulai tidak bisa makan sesuatu yang agak keras. Ini sedikit mengecewakan karena dia suka sekali makan daging.

Meng Bo ingin membantu ibunya agar bisa mengonsumsi daging lezat lagi. Sepanjang malam duduk, memikirkan bagaimana mengolah daging yang bisa dimakan oleh ibunya. Hingga suatu hari, ia melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk dijadikan kue mochi.

Melihat hal itu, timbul idenya. Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging dengan cara yang digunakan tetangganya dalam membuat kue mochi. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil sehingga ibunya dapat memakannya dengan mudah. Kemudian ia merebus adonan itu, tercium aroma daging yang lezat.

Meng Bo menyajikan bakso itu kepada ibunya. Sang ibu merasa gembira karena tidak hanya baksonya yang lezat, tapi juga mudah untuk dimakan.  Meng Bo sangat senang melihat ibunya dapat makan daging lagi.
Kisah berbaktinya Meng Bo pada ibunya beserta resep baksonya, cepat menyebar ke seluruh kota Fuzhou. Penduduk berdatangan untuk belajar membuat bakso lezat pada Meng Bo.